5 Poin Penting buku: 7 Jurus rahasia mendidik anak berkarakter
Membaca buku 7 jurus rahasia mendidik anak berkarakter, karya Fauzi Nugraha dan Ust. Abdullah Zaky malah membuat saya jadi flashback ke masa kecil, bagaimana saya dibesarkan dulu. Saya melihat beberapa ketidakberesan yang ketika saya renungkan seperti memberi jawaban atas problem yang terjadi pada saya saat ini. Hmm. Ada beberapa PR buat saya yang harus segera dibetulkan, terlepas bagaimana orang tua saya dulu membesarkan, saya melepas diri dari hal itu. Karena itu diluar kendali.
Saya bersyukur memiliki orang tua dengan sebagian sisi yang baik, meski orang tua saya bukanlah orang tua yang sempurna. Sisi baik mereka, yang berhasil saya lihat memberi saya pandangan juga mengenai bagaimana saya sekarang seharusnya melihat sisi positif yang saya miliki dan dengan potensi tersebut membuat saya menjadi unggul, kreatif & bermanfaat. Saya kira ada banyak orang yang memiliki problem saat dewasanya atau bahkan sudah memasuki usia paruh baya terjadi disebabkan didikan kecil mereka dulu yang meninggalkan unexpressed feeling dan telah mengakar kuat dalam fikiran bawah sadar.
Ketika saya memposisikan sebagai orang tua dari 3 anak. Membaca buku ini menyadarkan saya akan pentingnya mendidik anak pada usia golden age. Yaitu usia anak sebelum 14-17 tahun, atau masa pada 5 tahun pertama. Kenapa memang di usia tersebut? Jawabannya ada pada poin nomor 2 uraian dibawah.
Buku ini benar-benar membuat saya banyak merenung, terlebih saya sebagai ayah muda yang baru berusia 30-an, gak punya pengalaman sebelumnya, seperti baru kemarin lulus SMA, terus merantau ujug-ujug udah ada 3 anak yang harus dididik. Karena pendidikan karakter anak nggak semerta-merta hanya tugas ibu, namun peran ayah juga sangat vital karena dia sebagai role model dan tak tergantikan perannya bagi anak perempuan ataupun laki-laki. Sementara yang menjadi penghalang terbesar ayah-ayah saat ini mungkin pekerjaan menjadi jarak bagi kedekatan dengan anak. Anda harus jeli mencari waktu untuk bisa hadir bagi mereka.
5 poin yang menarik dari buku ini:
1. Penanaman akhlak anak dimulai dari pelajaran tauhid atau mengenalkan Allah (ini sesuai dengan anjuran surat Lukman: 13-18), lalu pelajaran berikutnya berturut-turut yaitu berbakti kepada orang tua, taat, jujur, kewajiban beribadah, berbuat baik, dan sabar lalu santun. Ini sejalan dengan alur pendidikan yang dimulai dari dalam keluar SQ, EQ, IQ. Kalo yang ditanamkan tauhidnya dulu (SQ), nanti pas gede dia nggak perlu disuruh-surut sholat terus otomatis akan ngerjain sholat sendiri karena fundamental ketauhidannya sudah tumbuh.
2. Ada satu jurus yang menarik yaitu program pikiran. Memberi pengajaran untuk anak-anak pada usia dibawah 14-17 tahun (utamanya 5 tahun pertama), itu akan masuk ke dalam fikiran bawah sadar. Jadinya lebih mudah diingat dan akan membentuk habit. Untuk itu semestinya kita mengajari yang baik-baik. Karena ini yang nanti akan mempengaruhi kebiasaan hingga menjadi sifat di masa dewasa. Sebaliknya untuk program pikiran bagi orang yang sudah diatas usia 15-17 tahun juga masih memungkinkan, kok. Belum terlambat, hanya saja pada bagian area otak itu terdapat terdapat area kritis diantara otak sadar dan bawah sadar. Sehingga cara terbaik memprogram pikiran adalah dengan memberikan 3-7 poin perintah. Dan dilakukan secara rutin dan konsisten*¹.
3. Terus masing-masing anak itu beda, jadi cara penanganannya berbeda juga. Ada 4 kepribadian yaitu koleris, sanguin, plegmatis, melankolis. Cara memberi pesan atau perintah ke anak, alangkah baiknya disesuaikan dengan kepribadian. Kalo koleris saat disuruh ngaji, mesti dihubungkan dengan cita-cita. Misal nak jangan lupa ngaji ya, biar disayang Allah. Nanti kalo disayang Allah adik bisa jadi pilot. Kalo sanguin dihubungkan dengan banyak teman. Nak, malam ini ngaji ya, disana ada banyak teman-teman. Rio juga ngaji disana. Kalo plegmatis, jangan langsung dipaksa, dia mesti disiapkan jauh-jauh hari. Karena suka keteraturan: nak, kalo sudah selesai main. Jangan lupa ya siap-siap ngaji, ini baju dan pecinya bunda taruh di lemari. Kalo melankolis, dikaitkan dengan angka: Nak, jangan lupa ngaji nanti malam. Tau nggak kalo kaka jalan satu langkah, dihitung 10 kebaikan pahala. Biasanya seseorang memiliki dua kecenderungan kepribadian.
4. Tangki Cinta: Banyaknya kasus yang terjadi pada anak dibawah umur seperti bunuh diri, masalah jiwa, disebabkan karena fatherless. Kurangnya kasih sayang, cinta, dan empati dari orang tuanya. Ketika anak-anak mendapat cintanya orang tua, maka dia akan memiliki semangat hidup, ceria, menunjukkan prestasinya. Jadi tangki cinta anak harus selalu full. Tetapi, sebelum mengisi tangki cinta anak bisa full. Sebagai orang tua, syaratnya kedua pasangan suami dan istri harus full juga tangki cintanya. Ini syarat mutlak. Lalu, bagaimana cara mengisi tangki cinta? Dengan bahasa cinta. Ada 5 bahasa cinta yang disampaikan yaitu: Bahasa cinta dengan kata-kata pendukung, dengan hadiah, quality tiime, setuhan fisik, layanan.
5. Tungku mental bertujuan supaya anak memiliki kedewasaan emosional. Supaya anak tidak terjerumus ke hal-hal negatif diluaran sana seperti minum-minuman keras, komunitas yang kurang baik gara-gara gagal mengekpresikan emosi secara benar. Tungku mental itu seperti rebusan air di teflon tanpa tutup. Uap panasnya langsung keatas. Semestinya seperti ini. Intinya adalah emosi anak harus diekspresikan. Kalo tidak, bisa menjadi awal gangguan kepribadian. Sebagai orang tua, harus memahami emosi yang terjadi pada anak supaya bisa menyalurkan emosi dengan baik. Anak yang terpenuhi emosi dasarnya, dia akan menjadi anak yang berprestasi. Tiga emosi dasar anak yang harus dipenuhi yaitu: rasa aman emosional bahwa orang tua harus memberikan rasa aman kepada anak bahwa yang mereka kerjakan itu aman, tidak ada tekanan, dan apapun hasilnya akan dihargai tanpa syarat apapun. Kedua rasa dicintai (detilnya di jurus tangki cinta). Kontrol diri/otonomi: anak diberikan kebebasan memilih, bukan berarti mereka bebas, tapi kita arahkan pilihannya misal saat anak lagi belajar mandi apakah mau mandi di kamar mandi dalam atau luar, mau makai gayung atau shower.
Satu hal yang penting banget, ketika anak melakukan kesalahan. Jangan langsung dimarahi. Karena saat itu si anak sedang belajar tanggung jawab. Sebab, kelak besar manusia akan mengalami ribuan kesalahan. Kalau saat anak salah, langsung dimarahin saat dewasa anak bisa menjadi tidak berani mengambil risiko karena beranggapan bahwa salah itu sesuatu yang menjijikkan, jelek, mengecewakan. Dalam hal pengawasan, sebaiknya orangtua menjadi orang tua yang demokratis artinya anak bebas berkreasi dengan batasan dan pengawasan dari orang tuanya.
Total ada 5 jurus yaitu: doa, bintang harian, tangki cinta, belajar dari mr. lukman, anakku dan anakmu beda, tungku mental.
*¹) Seminggu satu.

Posting Komentar untuk "5 Poin Penting buku: 7 Jurus rahasia mendidik anak berkarakter"
Posting Komentar